
Sukoharjo, 9 Juni 2026 – Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam sukses menyelenggarakan Seminar Nasional bertema “Penguatan Kompetensi Konselor dalam Menghadapi Dinamika Psikologis Peserta Didik Melalui Kurikulum Berbasis Cinta” yang bertempat di Aula Gedung Rektorat Lantai 3 pada Selasa (9/6/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh dosen, mahasiswa, guru Bimbingan dan Konseling se Jawa Tengah, praktisi pendidikan, serta peserta dari berbagai institusi pendidikan yang memiliki perhatian terhadap perkembangan layanan konseling dan kesehatan mental peserta didik.
Seminar nasional ini diselenggarakan sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalitas konselor serta guru Bimbingan dan Konseling dalam menghadapi berbagai tantangan psikologis yang semakin kompleks di era digital dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk memahami pentingnya penguatan kompetensi konselor yang tidak hanya menguasai aspek teknis layanan konseling, tetapi juga memiliki pendekatan yang humanis dan berorientasi pada nilai-nilai cinta dalam pendidikan.
Pada sesi pertama, materi disampaikan oleh Dr. Fitriah M. Suud, M.Ag. dengan tema “Penguatan Kompetensi Konselor Sekolah dalam Menghadapi Krisis Psikologis Peserta Didik di Era Digital.” Dalam pemaparannya, beliau menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi peserta didik akibat perkembangan teknologi digital, seperti kecanduan media sosial, cyberbullying, tekanan akademik, hingga berbagai bentuk krisis kesehatan mental. Beliau menekankan pentingnya peran konselor sekolah dalam membangun kemampuan deteksi dini, intervensi yang tepat, serta pendampingan yang berkelanjutan bagi peserta didik yang mengalami permasalahan psikologis.
Selanjutnya, sesi kedua menghadirkan Dr. Frendi Fernando, M.A. yang membawakan materi bertajuk “Penguatan Kompetensi Adaptif Guru BK di Era Artificial Intelligence melalui Kurikulum Berbasis Cinta.” Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, guru BK dituntut untuk memiliki kompetensi adaptif agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak sekaligus mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan dalam proses pendampingan peserta didik. Kurikulum berbasis cinta dipandang sebagai pendekatan yang relevan untuk membangun hubungan yang empatik, penuh penghargaan, dan berorientasi pada pengembangan potensi peserta didik secara holistik.
Kegiatan seminar berlangsung secara interaktif dengan sesi diskusi yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertukar gagasan, pengalaman, serta strategi dalam menghadapi berbagai dinamika psikologis peserta didik. Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi dalam sesi tanya jawab yang membahas isu-isu aktual terkait kesehatan mental, transformasi digital, dan implementasi kurikulum berbasis cinta dalam layanan bimbingan dan konseling.
Melalui penyelenggaraan Seminar Nasional ini, Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan kompetensi profesional konselor dan guru BK, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih inklusif, humanis, dan responsif terhadap kebutuhan psikologis peserta didik di era yang terus berkembang.

Mengubah Cara Pandang terhadap Raport: Parenting Cinta untuk Generasi Digital
1 pekan yang lalu - Umum